Vihara Gunung Timur

Ungkapan tak kasat mata itu bukannya tanpa alasan, meskipun tidak dalam arti sebenarnya, tempat ibadah yang dibangun pada 1960-an telah dimasukkan dalam daftar tujuan wisata bud

Tempatwisatadisumatera.web.id – Ungkapan tak kasat mata itu bukannya tanpa alasan, meskipun tidak dalam arti sebenarnya, tempat ibadah yang dibangun pada 1960-an telah dimasukkan dalam daftar tujuan wisata budaya dan keagamaan di Medan selama beberapa tahun. Bahkan nama dan keberadaannya telah terdaftar di hampir semua biro perjalanan di kota Medan dan di kantor-kantor lain di kota itu, baik biro perjalanan konvensional maupun biro perjalanan online.

Dari beberapa tahun sejak saya datang ke kota Medan, saya sering bertanya pada banyak orang yang merupakan penduduk asli kota Medan maupun mereka para pendatang yang sudah lama berada di kota ini mengenai keberadaan Vihara Gunung Timur. Bahkan pertanyaan inipun sering saya tanyakan di beberapa group-gorup komunitas baik itu WhatsApp, Facebook, Line maupun Telegram. Hanya ada tiga pertanyaan yang sering saya tanyakan kepada mereka, yaitu ;

  1. Pernah dengarkah kamu Vihara Gunung Timur ?
  2. Dimanakah letak /lokasi Vihara Gunung Timur ?
  3. Pernahkah datang / mengunjungi nya ?

Nah dari tiga pertanyaan diatas, ternyata sangat banyak mereka yang menjawab tidak tahu, tidak tau dimana letaknya apalagi pernah mengunjungi atau datang ke lokasi. Persentase yang paling tinggi adalah jawaban untuk pertanyaan nomor tiga. Bahkan pertanyaan yang sama sering saya tanyakan kepada mereka-mereka yang katanya para penikmat wisata.

Namun kondisi ini berbanding terbalik jika saya melihat dari banyaknya para wisatawan luar kota Medan maupun wisatawan mancanegara yang jika mereka berkunjung ke kota Medan, Vihara Gunung Timur sudah menjadi daftar utama yang ada di Itinerary atau daftar rencana perjelanan mereka selain Istana Maimun, Mesjid Raya Al-Mashun, Rumah Tjong A Fie, Graha Maria Annai Velangkanni dan yang lainnya. Nah kondisi inilah yang saya maksudkan bahwa Vihara Gunung Timur ibarat terlihat dari jauh tapi tak terlihat dari dekat.

Dari kondisi diatas saya melihat ada beberapa alasan mengapa warga kota Medan masih banyak yang belum tau lokasi dan belum pernah melihat dari dekat bangunan unik yang di dominasi warna merah dan kuning ini. Alasan utamanya adalah bahwa mereka merasa bisa kapan saja alias nanti-nanti saja berkunjung toh letaknya berada di kota sendiri, dan alasan yang lainnya adalah mereka merasa bahwa bangunan-bangunan yang sejenis ini yang berada di kota ataupun negara lain lebih menarik ketimbang yang berada di kota sendiri, padahal orang-orang yang jauh disana menilai situs wisata ini sangat unik dan menarik. Istilah pepatahnya “rumput tetangga terlihat lebih hijau ketimbang rumput di halaman rumah sendiri”.

Menerangkan maksud dari judul artikel saya rasa cukup sampai disini. Bagi kamu yang merasa termasuk kedalam orang-orang yang belum tau, belum pernah mengunjungi atau berwisata budaya atau religi ke Vihara Gunung Timur, atau ada rencana mengunjungi tempat ini, sebaiknya kamu kelarkan membaca artikel ini hingga tuntas.

Vihara Gunung Timur berada di jalan Hang Tuah, posisinya dibelakang Taman Beringin dan hanya beberapa puluh meter saja dari halaman depan rumah dinas Gubernur Sumatera Utara yang terletak di Jalan Jend. Sudirman. Area bangunan ini juga berbatasan dengan Sungai Babura yang melingkar dari sisi kiri hingga sisi sebalah kanan, sehingga jika dilihat dari Google Map, bangunan ini persis menghadap ke Sungai Babura.

Vihara Gunung Timur didirikan oleh Komunitas Tao dan Budha di kota Medan, itu mengapa jika dilihat dari arsitektur bangunan ini lebih mirip klenteng atau kuil ketimbang bangunan Vihara seperti pada umumnya. Ternyata rumah ibadah ini selain sebagai tempat ibadah umat budha juga sebagai tempat ibadahnya umat konghucu. Selain sebagai tempat pemujaan bagi umat budha dan konghucu, bangunan ini juga terkenal sebagai situs bersejarah di Medan. Dulunya bangunan ini adalah tanah yang miring di dekat Sungai Babura, hingga pada tahun 1960 kuil ini mulai dibangun.

Baca juga : Museum TNI Kota Medan

Di pintu masuk kuil, ada dua patung singa dan naga yang penuh ukiran oriental yang merupakan ciri khas etnis Cina. Ketika masuk ke dalam kuil, ada tempat untuk beribadat yang dihiasi dengan dupa dan lilin. Ada drum besar di dekat ruang berdoa, yang akan digunakan pada saat Tahun Baru Cina. Pada beberapa hari besar seperti Tahun Baru Cina atau Cap Go Meh, kuil ini akan ramai karena sering diadakan prosesi tarian singa.

Melihat posisi kuil yang menghadap ke Sungai Babura, Orang-orang Tionghoa percaya, dengan desain menghadap ke Sungai Babura hal itu akan membawa keberuntungan bagi kuil dan mereka yang berkunjung ke sana.

Selain itu, kuil ini juga menggunakan nuansa warna merah dan kuning. Kedua warna dipilih sebagai warna dominan karena dianggap sebagai warna keberuntungan oleh orang Tionghoa. Di bagian atas gedung terdapat hiasan sepasang naga berwarna hijau saling berhadapan dengan matahari di tengah. Di belakang patung naga juga ada sepasang ikan naga berkepala raksasa. Terdapat juga patung singa besar berwara hitam dan putih di depan kuil.

Di bagian halaman terdapat area untuk membakar dupa dan bangunan dengan atap seperti bertingkat-tingkat tempat untuk membakar kertas sembahyang atau kertas gincoa dan kimcoa.

Di lokasi ini ada beberapa altar pemujaan para dewa, total ada 8 patung dewa di tempat ini. Di tempat pertama ada patung Dewa Shen Jing Ru diikuti oleh Dewa Shen Zai Zhu Sen Da di sampingnya. Lebih ke belakang ada Dewa Cen Cing Tien dan Xian Shi Dian. Di angka ke enam ada patung Dewa Ou Xian Gu dan Wang Yan Dian Shi yang menjaga kiri dan kanan pembakaran dupa di kuil. Demikian juga patung Dewa Liu Fan Xian Shi di bagian selanjutnya.

Di bagian dalam gedung ada altar Buddha, ditemani oleh Buddha Maitreya dan Dewi Kwan Im. Sementara di sisi kanan ada sebuah altar yang dipenuhi dengan beberapa dewa dalam budaya kepercayaan tradisional Cina, Tua Pek Kong ditemani dengan Thay Suei. Di bawahnya ada patung Thien Kou (surga anjing) dan pengawalan Pek Ho Kong (Macan Putih) oleh Tho Te Kong (dewa tanah).

Nah itulah gambaran tentang Vihara Gunung Timur, bagi kamu yang ingin mengunjungi tempat wisata budaya & religi ini bisa mengikuti panduan dan tips di bawah ini.

Panduan dan Cara Menuju ke Vihara Gunung Timur

  1. Pergilah ke Taman Beringin, yang terletak di pojokan antara jalan Jendral Sudirman dan Jalan Teuku Cik Ditiro.
  2. Dari jalan Cik Ditiro masuk ke jalan Hang Tuah di samping kiri Mushola Taman Beringin.
  3. Beberapa puluh meter kedepan kamu akan ketemu pintu masuk Vihara Gunung Timur, dipintu masuk ada pos jaga, kamu bisa bertanya kepada para penjaga mengenai letak parkir kendaraan dan lain-lain

Tips Berkunjung ke Vihara Gunung Timur

  1. Bagi kamu yang suka dengan background foto bersih alias tidak ada orang yang berseliweran di belakang, sebaiknya datang lebih pagi atau diluar hari libur.
  2. Datang pada cuaca tidak terlalu panas atau terik akan lebih baik jika ingin mendapatkan hasil foto yang bagus.
  3. Jika kamu ingin mengambil gambar di area altar peribadatan, sebaiknya bertanya kepada petugas area-area mana saja yang boleh di ambil gambarnya.

Saran Buat Pengunjung ;
Meskipun ini merupakan tempat wisata budaya, namun sesungguhnya ini adalah area rumah ibadah, so kamu-kamu musti mengikuti aturan dan etika disana ya, jangan berisik karena bisa menggangu orang yang sedang beribadah.

Selamat berwisata.