Istana Negeri Padang (Tebing Tinggi)

Istana Negeri Padang (Tebing Tinggi)

Tempatwisatadisumatera.web.idIstana Negara Padang Warisan Raja XII dari Kerajaan Melayu, Tengku Hasyim, terletak di daerah perumahan di Jalan KF Tandean, Tebing Tinggi. Istana dengan kebanggaan Melayu, warna kuning cerah membuat bangunan tampak megah dibandingkan dengan rumah-rumah penduduk sekitarnya.

Siapa sangka istana tersebut usianya lebih dari dua abad, dengan tahun pembangunan 1800 masa kerajaan. Tengku Emil, cucu Raja Tengku Hasyim, menuturkan istana kini dikelola oleh ahli waris Raja Tengku Hasyim.

“Untuk menghidupkan kembali cerita sejarah kejayaan Raja Tengku Hasyim, Mengenalkan kembali sejarah kota tebing, keluarga raja berkomitmen untuk menjadikan istana sebagai museum,” kata Emil.

Menurutnya, walaupun sudah tersebar, barang-barang milik raja masih lengkap dan disimpan aman oleh keluarga.

“Jadi kesepakatan bersama, barang-barang akan kita kumpulkan dan pajang untuk dapat dilihat oleh umum. Ada pedang peninggalan raja, foto-foto keluarga, pakaian raja, hingga peralatan makan dan minum hingga kursi raja juga ada,” jelasnya.

“Bangunan lama masih alami dan tidak diganggu. Karena dibangun untuk tempat tinggal raja alias istana, bangunannya dibuat dari bahan pilihan, sehingga walaupun sudah berabad masih kokoh. Kami hanya merenovasi beberapa seperti lantai, dan jendela. Sisanya masih original,” katanya.

Menurutnya, tanah setengah hektare tersebut, selain bangunan istana juga berdampingan dengan makam para raja dan keturunannya.

Baca juga : Pemandian Batu Nongol (Tebing Tinggi)

“Ada makam raja ke delapan, sembilan, dan sepuluh beserta istri dan anak raja. Kawasan ini terbuka untuk umum yang ingin melayat makam raja,” katanya.

Ada yang unik juga dari penamaan Kerajaan Negeri Padang tersebut, nama negeri padang diambil untuk menggambarkan kondisi kerajaan yang berada di dataran tanah yang serta pepohonan yang rimbun.

“Tapi sekarang sekitaran sudah penuh rumah dan gedung. Bahkan untuk masuk ke gerbang istana harus lewat belakang rumah penduduk, karena istana tidak berada di depan pasar atau jalan,” katanya.

Pertama pendengar nama Istana Negeri Padang, masyarakat bahkan ada yang mengira kawasan tersebut dihuni oleh penduduk bersuku Padang.

Hal itu terjadi karena kurangnya pengetahuan terhadap sejarah Kota Tebing atau para wisatawan dari luar daerah.

“Itu dia sedang kita sosialisasikan, dimulai dengan pengenalan kepada siswa SD, SMP, SMA dan mahasiswa dari universitas dari dalam dan luar Tebing. Kita membuka pintu untuk penelitian, pembelajaran, atau wisatasan yang wisata sejarah ke Istana Negeri Padang,” katanya.

Istana Negeri Padang di Jalan KF Tandean pertama kali ditempati oleh raja Tengku Haji Muhammad Nurdin, kemudian Raja Tengku Abdurrahman, Raja Tengku Alamsyah, Raja Tengku Ismail dan raja terakhir Raja Tengku Hasyim.

Pemandian Batu Nongol (Tebing Tinggi)

Pemandian Batu Nongol (Tebing Tinggi)

Tempatwisatadisumatera.web.id – Dia baru berusia tiga tahun, tetapi tempat rekreasi ini selalu dibanjiri ribuan pengunjung setiap minggu. Selain aman, alkohol juga terasa nyaman. Sunardi Tolo, 40, sangat tertarik melihat peluang bisnis. Setelah penggalian bisnis C mulai habis, itu mengubahnya menjadi tempat untuk pemandian alami. Tanpa menyusut, Sunardi, yang akrab disapa Selik, membeli area seluas 6 hektar dan menghabiskan Rp. 1.500 juta untuk mengatur arena rekreasi.

Jadilah ”Pemandian Alam Batu Nongol” di desa Buluh Duri, Kecamatan Sipispis Sergai, seperti saat ini: dikunjungi ribuan orang. ”Saya memang terobsesi untuk menjadikan tempat masa kecil saya ini menjadi objek rekreasi,” kata Sunardi yang didampingi Sumantri, penanggungjawab Pemandian Batu Nongol. Dari penataan yang apik terlihat deretan pondok peristirahatan yang bersusun rapi di pinggiran Sungai Padang ini. Ada juga ”molen” (kinciran) dan sejumlah kantin. ”jangan harap disini ada minuman keras, kami larang itu,” katanya. Ia beralasan lokasi wisata ini memang ditujukan kepada keluarga dan ingin menjadikannya tempat yang ”bersih”. Itu sebabnya dilokasi ini belum ada tempat penginapan. ”Ini belum selesai lagi karena baru di tata setengahnya. Kalau nanti ada modal saya akan kembangkan terus untuk mewujudkan lokasi wisata yang lengkap,” ujar Sunardi. Soal tempat penginapan, Sunardi berencana akan menyediakannya tahun depan. Ia mengaku tidak mau terburu-buru karena harus berkonsultasi dengan masyarakat setempat dan alim ulama sehingga tidak menimbulkan image jelek di objek wisata ini.

Baca juga : Museum Kota Tebing Tinggi

Selain tempat penginapan, obsesinya melengkapi tempat itu dengan sarana permainan air seperti sepeda air, tempat luncuran anak-anak dan sarana lainnya. Kemudian di lokasi itu juga akan dibangun kebun binatang. Menariknya dalam mengembangkan lokasi ini, Sunardi melibatkan warga sekitar. Setidaknya ada 100-an warga yang menjadi ”partner” dalam bisnisnya ini. Mereka memperoleh persen hasil dari usaha pemandian ini. ”Saya membangun manajemen terbuka sehingga mereka tahu berapa pemasukannya. Dengan begitu mereka akan merasa memiliki dan mejaga lokasi ini,” bebernya. Soalnya keamanan pengunjung memang menjadi prioritasnya. Untuk itu sehari-harinya di beberapa titik rawan sungai disiapkan tim SAR. ”Kalau padat pengunjung kita siapkan 10 orang SAR”. Pengunjung yang datang ternyata bukan hanya dari sekitar kota Tebing Tinggi dan Sergai saja tetapi juga dari Pangkalan Brandan bahkan Rantau Perapat. Ramainya pengunjung ini tidak lepas dari promosi yang dilakukan seperti dengan mendatangkan artis ibukota. ”April lalu Dewi Persik menghibur disini, setidaknya 15 ribu pengunjung yang datang,” aku Sunardi. Pemkab Sergai juga aktif mempromosikan lokasi Batu Nongol diberbagai kegiatan. Sunardi bercerita beberapa waktu setelah ikut berpameran di Jakarta, serombongan warga Jakarta datang ke lokasi tersebut. Mereka hendak menikmati suasana Batu Nongol. ”Mereka pikir ada penginapan disini jadi mereka datang Sabtu sore”, kata Sunardi. Atas hal-hal inilah Sunardi memantapkan tekad untuk menyediakan penginapan pada tahun depan. Kehadiran Pemandian Batu Nongol membuat banyak pilihan berwisata dan berekreasi karena selama ini Sergai lebih dikenal memiliki banyak tempat rekreasi pantai. Untuk melihat foto-foto dari lokasi ini silakan klik content “Sergai Dalam Foto’.

Museum Kota Tebing Tinggi

Museum Kota Tebing Tinggi

Tempatwisatadisumatera.web.id – Museum Kota Tebing Tinggi adalah tempat yang sering digunakan siswa dan siswa untuk mencari tahu dan mendapatkan informasi tentang peninggalan kerajaan yang pernah ada di Tebing Tinggi.

Museum Kota Tebing Tinggi menjadi tempat penyimpanan benda-benda bersejarah dari berbagai suku yang ada di Tebing Tinggi seperti suku batak, suku batak simalungun, suku jawa dan suku nias. Yang membuat menarik dan penasaran ialah, di dalam Museum Kota Tebing Tinggi terdapat pula benda bersejarah dari kerajan Padang, seperti uang koin lama, tongkat, gerabah dan keris. Serta ada pula telepon peninggalan Belanda yang sampai saat ini masih bisa digunakan.

Untuk lokasinya Museum Kota Tebing Tinggi terletak di jalan Kotamadya, Kota Tebing Tinggi, Propinsi Sumatera Utara. Letaknya ada di kota sehingga mudah di jangkau. Namun sayang belum ada fasilitas yang bisa digunakan pengunjung untuk lebih bisa menikmati tempat ini. Semoga kedepannya pemkot memberikan beberapa fasilitas yang bisa di gunakan/dinikmati pengujung, sehingga pengunjung bisa lebih antusian mengunjungi Museum Kota ini. Museum Kota Tebing Tinggi terletak di jalan Kotamadya, Kota Tebing Tinggi, Propinsi Sumatera Utara.

Baca juga : Tempat Wisata DI Asahan

Koleksi
Terdapat koleksi benda-benda sejarah dari berbagai suku multi etnis yang ada di Tebingtinggi seperti suku nias, suku batak simalungun, batak toba dan suku jawa, ada juga peningalan benda-benda bersejarah milik kerajaan Padang seperti keris, uang koin lama, tongkat, gerabah dan foto-foto peninggalan kerajaan Padang serta telepon lama zaman penjahahan Belanda yang masih bisa dipergunakan.

Selain itu terdapat, tombak pedang baik zaman Belanda maupun Jepang, senjata laras, pistol, pedang China, keris, mandau, guci-guci jaman VOC, radio lama, timbangan, mata uang, bahan kerajinan tangan di zaman Belanda dan aneka ragam lainnya.

Ada koleksi dokumentasi foto-foto perjuangan di Kota Tebingtinggi serta foto bangunan dengan situs sejarahnya lengkap tertera di sana. Misalnya kunjungan Presiden dan wakil Presiden RI pertama ke Tebingtinggi, Gedung juang 45 dan banyak lainnya.

Museum Kota Tebing Tinggi merupakan informasi buat generasi muda pelajar dan mahasiswa untuk datang berkunjung ke Museum Tebingtinggi. Termasuk untuk pelestarian dalam rangka mencari, menggali khasanah peninggalan bersejarah di Kota Tebingtinggi untuk bekal generasi muda di daerah itu.

Tempat Wisata DI Asahan

Tempat Wisata DI Asahan

Tempatwisatadisumatera.web.id – Danau Teratai adalah salah satu danau yang terletak di desa Terusan Tengah, kabupaten Tinggi Raja, 19 km dari Kota Kisaran. Luas Danau Teratai adalah ± 100 ha, terdiri dari danau, rawa dan hutan bakau. Namun danau yang sudah mulai dikelola sebagai tempat wisata ini masih tergolong kecil. Fasilitas yang ada di Danau Teratai adalah dalam bentuk sepeda air, pengintai dan warung makan.

AIR TERJUN UNONG SISAPA
Air Terjun Unong Sisapa terletak di Desa Huta Padang, Kecamatan Bandar Pasir Mandoge, ± 52 km dari ibu kota kabupaten. Dari pusat kecamatan lokasi Air Terjun Unong Sisapa berjarak ± 5 km.

AIR TERJUN SIMONANG MONANG
Air Terjun Simonang-monang terletak di Desa Bandar Pulau Pekan, Kecamatan Bandar Pulau, ± 73 km dari kota Kisaran. Aktivitas yang biasa dilakukan pengunjung selain menikmati pemandangan yang indah adalah mandi di sekitar air terjun. Disini sering diadakan kontes pemilihan ratu dan pangeran simonang-monang bagi remaja. Keindahan air terjunnya membuat orang-orang ingin selalu mendatanginya.

AIR TERJUN PONOT
Air Terjun Ponot terletak di Desa Tangga, Kecamatan Aek Songsongan, Kabupaten Asahan, ± 90 km dari Ibu Kota Kabupaten Kisaran. Air Terjun Ponot memiliki pemandangan yang sangat indah dengan ketinggian lebih kurang 250 m dan jatuhan airnya sampai-sampai seperti embun yang menyejukkan. Air terjun ini berasal dari anak Sungai Asahan, dimana air Sungai Asahan ini mengalir menuju Selat Malaka melahirkan Air Terjun Sigura-gura dan Air Terjun Tangga terkadang disebut juga sebagai Air Terjun Sampuran Siharimo yang membangkitkan arus listrik.

Baca juga : Vihara Gunung Timur

BEDENG
Bedeng merupakan suatu lokasi rekreasi di bagian Sungai Asahan, Wisata Bedeng berkembang disebabkan lokasinya yang strategis. Jembatan gantung ini terletak di daerah kilometer, Aek Song-songan. Jembatan ini dijadikan tempat wisata karena dibawah jembatan ini mengalir sungai asahan yang jernih sehingga tak jarang orang-orang datang kemari untuk mandi.

ARUNG JERAM SUNGAI ASAHAN
Setelah Sungai Zambesi di Afrika dan Sungai Colorado di Amerika Serikat, peringkat ketiga jeram terbaik di dunia ditempati Sungai Asahan di Sumatera Utara. Tingkat kesulitan, tantangan, dan keindahan alam yang masih liar menjadi daya tarik tersendiri bagi Para petualang dan penggemar kegiatan luar ruangan.

Sungai Asahan khususnya di sekitar Desa Tangga, Kecamatan Aek Songsongan, Kabupaten Asahan, memiliki potensi sebagai objek wisata minat khusus yang ideal. Potensi ini harus terus dikembangkan agar semakin dikenal oleh masyarakat luas, khususnya para wisatawan mancanegara dan domestik.

PELABUHAN BAGAN ASAHAN
Pelabuhan Bagan Asahan terletak di Desa Bagan Asahan Kecamatan Tanjung Balai, Kabupaten Asahan. Pelabuhan Bagan Asahan adalah pelabuhan kapal yang ada di Kabupaten Asahan, namun sejauh ini masih dipergunakan oleh kapal-kapal nelayan, sedangkan kapal penumpang masih melalui Pelabuhan Teluk Nibung di Kota Tanjung Balai. Penduduk sekitar banyak yang memanfaatkan dermaga sebagai tempat rekreasi, sebagai lokasi jalan-jalan sore, melihat sun set atau sun rise. Hal ini dapat di lihat pada gambar di samping. Wilayah Kabupaten Asahan memiliki garis pantai sepanjang ± 58 km menghadap Selat Malaka dan berbatasan langsung dengan negara tetangga, Malaysia.

DANAU DI KELURAHAN KISARAN NAGA
Danau ini berada di Kelurahan Kisaran Naga, Kecamatan Kisaran Barat tepatnya di Jalan Ahmad Yani (Lintas Timur Pulau Sumatera). Sumber air danau ini berasal dari air hujan dan saluran kota.

Di tengah pulau ini terdapat pulau kecil yang membuat danau tersebut menjadi semakin unik. Kondisi danau tersebut saat ini terlihat masih kotor. Pulau kecil yang ada di tengah danau masih ditumbuhi tanaman liar. Namun di pinggir danau sudah terdapat jalan setapak dari semen. Sebagian jalan setapak ini terlihat sudah tidak terawat. Danau ini mempunyai potensi yang cukup besar sebagai lokasi atraksi wisata.

PASIRAN
Pasiran adalah bagian dari aliran Sungai Silau, yang berada di Desa Bandar Pasir Mandoge, Kecamatan Bandar Pasir Mandoge. Jarak Sungai Pasiran ke Pusat Kecamatan ± 11 km, dan ke desa terdekat 5 km. Awalnya Pasiran ini dinamai Pantai Kahona oleh penduduk setempat, namun dengan semakin ramainya penduduk dari kecamatan lain mengunjungi sungai ini, mereka menyebutnya dengan Pasiran, karena pada badan sungai ini terdapat tumpukan pasiran kwarsa dengan lebar ± 12 m dan panjang ± 80 m.

Ungkapan tak kasat mata itu bukannya tanpa alasan, meskipun tidak dalam arti sebenarnya, tempat ibadah yang dibangun pada 1960-an telah dimasukkan dalam daftar tujuan wisata bud

Vihara Gunung Timur

Tempatwisatadisumatera.web.id – Ungkapan tak kasat mata itu bukannya tanpa alasan, meskipun tidak dalam arti sebenarnya, tempat ibadah yang dibangun pada 1960-an telah dimasukkan dalam daftar tujuan wisata budaya dan keagamaan di Medan selama beberapa tahun. Bahkan nama dan keberadaannya telah terdaftar di hampir semua biro perjalanan di kota Medan dan di kantor-kantor lain di kota itu, baik biro perjalanan konvensional maupun biro perjalanan online.

Dari beberapa tahun sejak saya datang ke kota Medan, saya sering bertanya pada banyak orang yang merupakan penduduk asli kota Medan maupun mereka para pendatang yang sudah lama berada di kota ini mengenai keberadaan Vihara Gunung Timur. Bahkan pertanyaan inipun sering saya tanyakan di beberapa group-gorup komunitas baik itu WhatsApp, Facebook, Line maupun Telegram. Hanya ada tiga pertanyaan yang sering saya tanyakan kepada mereka, yaitu ;

  1. Pernah dengarkah kamu Vihara Gunung Timur ?
  2. Dimanakah letak /lokasi Vihara Gunung Timur ?
  3. Pernahkah datang / mengunjungi nya ?

Nah dari tiga pertanyaan diatas, ternyata sangat banyak mereka yang menjawab tidak tahu, tidak tau dimana letaknya apalagi pernah mengunjungi atau datang ke lokasi. Persentase yang paling tinggi adalah jawaban untuk pertanyaan nomor tiga. Bahkan pertanyaan yang sama sering saya tanyakan kepada mereka-mereka yang katanya para penikmat wisata.

Namun kondisi ini berbanding terbalik jika saya melihat dari banyaknya para wisatawan luar kota Medan maupun wisatawan mancanegara yang jika mereka berkunjung ke kota Medan, Vihara Gunung Timur sudah menjadi daftar utama yang ada di Itinerary atau daftar rencana perjelanan mereka selain Istana Maimun, Mesjid Raya Al-Mashun, Rumah Tjong A Fie, Graha Maria Annai Velangkanni dan yang lainnya. Nah kondisi inilah yang saya maksudkan bahwa Vihara Gunung Timur ibarat terlihat dari jauh tapi tak terlihat dari dekat.

Dari kondisi diatas saya melihat ada beberapa alasan mengapa warga kota Medan masih banyak yang belum tau lokasi dan belum pernah melihat dari dekat bangunan unik yang di dominasi warna merah dan kuning ini. Alasan utamanya adalah bahwa mereka merasa bisa kapan saja alias nanti-nanti saja berkunjung toh letaknya berada di kota sendiri, dan alasan yang lainnya adalah mereka merasa bahwa bangunan-bangunan yang sejenis ini yang berada di kota ataupun negara lain lebih menarik ketimbang yang berada di kota sendiri, padahal orang-orang yang jauh disana menilai situs wisata ini sangat unik dan menarik. Istilah pepatahnya “rumput tetangga terlihat lebih hijau ketimbang rumput di halaman rumah sendiri”.

Menerangkan maksud dari judul artikel saya rasa cukup sampai disini. Bagi kamu yang merasa termasuk kedalam orang-orang yang belum tau, belum pernah mengunjungi atau berwisata budaya atau religi ke Vihara Gunung Timur, atau ada rencana mengunjungi tempat ini, sebaiknya kamu kelarkan membaca artikel ini hingga tuntas.

Vihara Gunung Timur berada di jalan Hang Tuah, posisinya dibelakang Taman Beringin dan hanya beberapa puluh meter saja dari halaman depan rumah dinas Gubernur Sumatera Utara yang terletak di Jalan Jend. Sudirman. Area bangunan ini juga berbatasan dengan Sungai Babura yang melingkar dari sisi kiri hingga sisi sebalah kanan, sehingga jika dilihat dari Google Map, bangunan ini persis menghadap ke Sungai Babura.

Vihara Gunung Timur didirikan oleh Komunitas Tao dan Budha di kota Medan, itu mengapa jika dilihat dari arsitektur bangunan ini lebih mirip klenteng atau kuil ketimbang bangunan Vihara seperti pada umumnya. Ternyata rumah ibadah ini selain sebagai tempat ibadah umat budha juga sebagai tempat ibadahnya umat konghucu. Selain sebagai tempat pemujaan bagi umat budha dan konghucu, bangunan ini juga terkenal sebagai situs bersejarah di Medan. Dulunya bangunan ini adalah tanah yang miring di dekat Sungai Babura, hingga pada tahun 1960 kuil ini mulai dibangun.

Baca juga : Museum TNI Kota Medan

Di pintu masuk kuil, ada dua patung singa dan naga yang penuh ukiran oriental yang merupakan ciri khas etnis Cina. Ketika masuk ke dalam kuil, ada tempat untuk beribadat yang dihiasi dengan dupa dan lilin. Ada drum besar di dekat ruang berdoa, yang akan digunakan pada saat Tahun Baru Cina. Pada beberapa hari besar seperti Tahun Baru Cina atau Cap Go Meh, kuil ini akan ramai karena sering diadakan prosesi tarian singa.

Melihat posisi kuil yang menghadap ke Sungai Babura, Orang-orang Tionghoa percaya, dengan desain menghadap ke Sungai Babura hal itu akan membawa keberuntungan bagi kuil dan mereka yang berkunjung ke sana.

Selain itu, kuil ini juga menggunakan nuansa warna merah dan kuning. Kedua warna dipilih sebagai warna dominan karena dianggap sebagai warna keberuntungan oleh orang Tionghoa. Di bagian atas gedung terdapat hiasan sepasang naga berwarna hijau saling berhadapan dengan matahari di tengah. Di belakang patung naga juga ada sepasang ikan naga berkepala raksasa. Terdapat juga patung singa besar berwara hitam dan putih di depan kuil.

Di bagian halaman terdapat area untuk membakar dupa dan bangunan dengan atap seperti bertingkat-tingkat tempat untuk membakar kertas sembahyang atau kertas gincoa dan kimcoa.

Di lokasi ini ada beberapa altar pemujaan para dewa, total ada 8 patung dewa di tempat ini. Di tempat pertama ada patung Dewa Shen Jing Ru diikuti oleh Dewa Shen Zai Zhu Sen Da di sampingnya. Lebih ke belakang ada Dewa Cen Cing Tien dan Xian Shi Dian. Di angka ke enam ada patung Dewa Ou Xian Gu dan Wang Yan Dian Shi yang menjaga kiri dan kanan pembakaran dupa di kuil. Demikian juga patung Dewa Liu Fan Xian Shi di bagian selanjutnya.

Di bagian dalam gedung ada altar Buddha, ditemani oleh Buddha Maitreya dan Dewi Kwan Im. Sementara di sisi kanan ada sebuah altar yang dipenuhi dengan beberapa dewa dalam budaya kepercayaan tradisional Cina, Tua Pek Kong ditemani dengan Thay Suei. Di bawahnya ada patung Thien Kou (surga anjing) dan pengawalan Pek Ho Kong (Macan Putih) oleh Tho Te Kong (dewa tanah).

Nah itulah gambaran tentang Vihara Gunung Timur, bagi kamu yang ingin mengunjungi tempat wisata budaya & religi ini bisa mengikuti panduan dan tips di bawah ini.

Panduan dan Cara Menuju ke Vihara Gunung Timur

  1. Pergilah ke Taman Beringin, yang terletak di pojokan antara jalan Jendral Sudirman dan Jalan Teuku Cik Ditiro.
  2. Dari jalan Cik Ditiro masuk ke jalan Hang Tuah di samping kiri Mushola Taman Beringin.
  3. Beberapa puluh meter kedepan kamu akan ketemu pintu masuk Vihara Gunung Timur, dipintu masuk ada pos jaga, kamu bisa bertanya kepada para penjaga mengenai letak parkir kendaraan dan lain-lain

Tips Berkunjung ke Vihara Gunung Timur

  1. Bagi kamu yang suka dengan background foto bersih alias tidak ada orang yang berseliweran di belakang, sebaiknya datang lebih pagi atau diluar hari libur.
  2. Datang pada cuaca tidak terlalu panas atau terik akan lebih baik jika ingin mendapatkan hasil foto yang bagus.
  3. Jika kamu ingin mengambil gambar di area altar peribadatan, sebaiknya bertanya kepada petugas area-area mana saja yang boleh di ambil gambarnya.

Saran Buat Pengunjung ;
Meskipun ini merupakan tempat wisata budaya, namun sesungguhnya ini adalah area rumah ibadah, so kamu-kamu musti mengikuti aturan dan etika disana ya, jangan berisik karena bisa menggangu orang yang sedang beribadah.

Selamat berwisata.

1 2 3