Ungkapan tak kasat mata itu bukannya tanpa alasan, meskipun tidak dalam arti sebenarnya, tempat ibadah yang dibangun pada 1960-an telah dimasukkan dalam daftar tujuan wisata bud

Vihara Gunung Timur

Tempatwisatadisumatera.web.id – Ungkapan tak kasat mata itu bukannya tanpa alasan, meskipun tidak dalam arti sebenarnya, tempat ibadah yang dibangun pada 1960-an telah dimasukkan dalam daftar tujuan wisata budaya dan keagamaan di Medan selama beberapa tahun. Bahkan nama dan keberadaannya telah terdaftar di hampir semua biro perjalanan di kota Medan dan di kantor-kantor lain di kota itu, baik biro perjalanan konvensional maupun biro perjalanan online.

Dari beberapa tahun sejak saya datang ke kota Medan, saya sering bertanya pada banyak orang yang merupakan penduduk asli kota Medan maupun mereka para pendatang yang sudah lama berada di kota ini mengenai keberadaan Vihara Gunung Timur. Bahkan pertanyaan inipun sering saya tanyakan di beberapa group-gorup komunitas baik itu WhatsApp, Facebook, Line maupun Telegram. Hanya ada tiga pertanyaan yang sering saya tanyakan kepada mereka, yaitu ;

  1. Pernah dengarkah kamu Vihara Gunung Timur ?
  2. Dimanakah letak /lokasi Vihara Gunung Timur ?
  3. Pernahkah datang / mengunjungi nya ?

Nah dari tiga pertanyaan diatas, ternyata sangat banyak mereka yang menjawab tidak tahu, tidak tau dimana letaknya apalagi pernah mengunjungi atau datang ke lokasi. Persentase yang paling tinggi adalah jawaban untuk pertanyaan nomor tiga. Bahkan pertanyaan yang sama sering saya tanyakan kepada mereka-mereka yang katanya para penikmat wisata.

Namun kondisi ini berbanding terbalik jika saya melihat dari banyaknya para wisatawan luar kota Medan maupun wisatawan mancanegara yang jika mereka berkunjung ke kota Medan, Vihara Gunung Timur sudah menjadi daftar utama yang ada di Itinerary atau daftar rencana perjelanan mereka selain Istana Maimun, Mesjid Raya Al-Mashun, Rumah Tjong A Fie, Graha Maria Annai Velangkanni dan yang lainnya. Nah kondisi inilah yang saya maksudkan bahwa Vihara Gunung Timur ibarat terlihat dari jauh tapi tak terlihat dari dekat.

Dari kondisi diatas saya melihat ada beberapa alasan mengapa warga kota Medan masih banyak yang belum tau lokasi dan belum pernah melihat dari dekat bangunan unik yang di dominasi warna merah dan kuning ini. Alasan utamanya adalah bahwa mereka merasa bisa kapan saja alias nanti-nanti saja berkunjung toh letaknya berada di kota sendiri, dan alasan yang lainnya adalah mereka merasa bahwa bangunan-bangunan yang sejenis ini yang berada di kota ataupun negara lain lebih menarik ketimbang yang berada di kota sendiri, padahal orang-orang yang jauh disana menilai situs wisata ini sangat unik dan menarik. Istilah pepatahnya “rumput tetangga terlihat lebih hijau ketimbang rumput di halaman rumah sendiri”.

Menerangkan maksud dari judul artikel saya rasa cukup sampai disini. Bagi kamu yang merasa termasuk kedalam orang-orang yang belum tau, belum pernah mengunjungi atau berwisata budaya atau religi ke Vihara Gunung Timur, atau ada rencana mengunjungi tempat ini, sebaiknya kamu kelarkan membaca artikel ini hingga tuntas.

Vihara Gunung Timur berada di jalan Hang Tuah, posisinya dibelakang Taman Beringin dan hanya beberapa puluh meter saja dari halaman depan rumah dinas Gubernur Sumatera Utara yang terletak di Jalan Jend. Sudirman. Area bangunan ini juga berbatasan dengan Sungai Babura yang melingkar dari sisi kiri hingga sisi sebalah kanan, sehingga jika dilihat dari Google Map, bangunan ini persis menghadap ke Sungai Babura.

Vihara Gunung Timur didirikan oleh Komunitas Tao dan Budha di kota Medan, itu mengapa jika dilihat dari arsitektur bangunan ini lebih mirip klenteng atau kuil ketimbang bangunan Vihara seperti pada umumnya. Ternyata rumah ibadah ini selain sebagai tempat ibadah umat budha juga sebagai tempat ibadahnya umat konghucu. Selain sebagai tempat pemujaan bagi umat budha dan konghucu, bangunan ini juga terkenal sebagai situs bersejarah di Medan. Dulunya bangunan ini adalah tanah yang miring di dekat Sungai Babura, hingga pada tahun 1960 kuil ini mulai dibangun.

Baca juga : Museum TNI Kota Medan

Di pintu masuk kuil, ada dua patung singa dan naga yang penuh ukiran oriental yang merupakan ciri khas etnis Cina. Ketika masuk ke dalam kuil, ada tempat untuk beribadat yang dihiasi dengan dupa dan lilin. Ada drum besar di dekat ruang berdoa, yang akan digunakan pada saat Tahun Baru Cina. Pada beberapa hari besar seperti Tahun Baru Cina atau Cap Go Meh, kuil ini akan ramai karena sering diadakan prosesi tarian singa.

Melihat posisi kuil yang menghadap ke Sungai Babura, Orang-orang Tionghoa percaya, dengan desain menghadap ke Sungai Babura hal itu akan membawa keberuntungan bagi kuil dan mereka yang berkunjung ke sana.

Selain itu, kuil ini juga menggunakan nuansa warna merah dan kuning. Kedua warna dipilih sebagai warna dominan karena dianggap sebagai warna keberuntungan oleh orang Tionghoa. Di bagian atas gedung terdapat hiasan sepasang naga berwarna hijau saling berhadapan dengan matahari di tengah. Di belakang patung naga juga ada sepasang ikan naga berkepala raksasa. Terdapat juga patung singa besar berwara hitam dan putih di depan kuil.

Di bagian halaman terdapat area untuk membakar dupa dan bangunan dengan atap seperti bertingkat-tingkat tempat untuk membakar kertas sembahyang atau kertas gincoa dan kimcoa.

Di lokasi ini ada beberapa altar pemujaan para dewa, total ada 8 patung dewa di tempat ini. Di tempat pertama ada patung Dewa Shen Jing Ru diikuti oleh Dewa Shen Zai Zhu Sen Da di sampingnya. Lebih ke belakang ada Dewa Cen Cing Tien dan Xian Shi Dian. Di angka ke enam ada patung Dewa Ou Xian Gu dan Wang Yan Dian Shi yang menjaga kiri dan kanan pembakaran dupa di kuil. Demikian juga patung Dewa Liu Fan Xian Shi di bagian selanjutnya.

Di bagian dalam gedung ada altar Buddha, ditemani oleh Buddha Maitreya dan Dewi Kwan Im. Sementara di sisi kanan ada sebuah altar yang dipenuhi dengan beberapa dewa dalam budaya kepercayaan tradisional Cina, Tua Pek Kong ditemani dengan Thay Suei. Di bawahnya ada patung Thien Kou (surga anjing) dan pengawalan Pek Ho Kong (Macan Putih) oleh Tho Te Kong (dewa tanah).

Nah itulah gambaran tentang Vihara Gunung Timur, bagi kamu yang ingin mengunjungi tempat wisata budaya & religi ini bisa mengikuti panduan dan tips di bawah ini.

Panduan dan Cara Menuju ke Vihara Gunung Timur

  1. Pergilah ke Taman Beringin, yang terletak di pojokan antara jalan Jendral Sudirman dan Jalan Teuku Cik Ditiro.
  2. Dari jalan Cik Ditiro masuk ke jalan Hang Tuah di samping kiri Mushola Taman Beringin.
  3. Beberapa puluh meter kedepan kamu akan ketemu pintu masuk Vihara Gunung Timur, dipintu masuk ada pos jaga, kamu bisa bertanya kepada para penjaga mengenai letak parkir kendaraan dan lain-lain

Tips Berkunjung ke Vihara Gunung Timur

  1. Bagi kamu yang suka dengan background foto bersih alias tidak ada orang yang berseliweran di belakang, sebaiknya datang lebih pagi atau diluar hari libur.
  2. Datang pada cuaca tidak terlalu panas atau terik akan lebih baik jika ingin mendapatkan hasil foto yang bagus.
  3. Jika kamu ingin mengambil gambar di area altar peribadatan, sebaiknya bertanya kepada petugas area-area mana saja yang boleh di ambil gambarnya.

Saran Buat Pengunjung ;
Meskipun ini merupakan tempat wisata budaya, namun sesungguhnya ini adalah area rumah ibadah, so kamu-kamu musti mengikuti aturan dan etika disana ya, jangan berisik karena bisa menggangu orang yang sedang beribadah.

Selamat berwisata.

Museum TNI Kota Medan

Museum TNI Kota Medan

Tempatwisatadisumatera.web.id – Bepergian bukan hanya petualangan saat Anda mengagumi pemandangan yang indah. Jalan-jalan bisa menjadi jauh lebih penting jika pada saat yang sama kita dapat menghargai jejak masa lalu yang menarik dari suatu tempat. Jika Anda berada di Medan, ini dapat dilakukan di Museum Pertarungan Militer Indonesia di Medan.

Museum perjuangan TNI berada di Jl Zainul Arifin. Di dalamnya terdapat sejumlah benda dan dokumen peninggalan militer Indonesia selama masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Bagi sobat traveler yang ingin memupuk jiwa patriotisme dan nasionalisme, sangat disarankan berkunjung ke lokasi ini.

Cagar Budaya nan Bersejarah
Museum Perjuangan TNI Medan berdiri di sebuah bangunan yang bisa disebut sebagai cagar budaya. Destinasi berusia 90 tahun ini memanfaatkan gedung bersejarah yang sudah beberapa kali beralih fungsi. Mulanya sempat digunakan sebagai kantor perusahaan asuransi Belanda dan sempat dijadikan sebagai markas Jepang selama masa pendudukan di Indonesia.

Memasuki era kemerdekaan, bangunannya juga pernah dijadikan Markas Komando Teritorium I dan Kantor Kodam I/BB. Barulah pada tahun 1971 mulai ada inisiatif untuk mengubah fungsinya menjadi museum. Lokasi sarat nilai sejarah ini juga dikenal sebagian orang dengan istilah Museum Bukit Barisan.

Koleksi Senjata Unik
Museum Perjuangan TNI Medan menyimpan ratusan koleksi senjata peninggalan semasa perang kemerdekaan. Hampir sebagian besar merupakan hasil rampasan dari penjajah Belanda. Beberapa di antaranya cukup populer, seperti SMR Medzer buatan Swedia, meriam kanon bikinan Amerika Serikat, dan sebuah senjata bazoka lima inci.

Namun di antara ratusan koleksi senjata tersebut terselip beberapa senjata unik buatan lokal. Namanya pun unik, seperti senapan ‘tunggu dulu yang dibuat di Bandung. Selain itu masih ada meriam tomong bikinan Brayan yang terbuat dari tiang listrik.

Baca juga : Kebun Binatang Kota Medan

Dokumen Penting
Bukan hanya sekedar peninggalan berupa benda-benda, Museum Perjuangan TNI juga menyimpan rapi sejumlah dokumen penting selama masa revolusi fisik. Di lantai dua misalnya, terdapat sebuah perpustakaan khusus. Di dalamnya pengunjung bisa bebas membaca koleksi buku-buku lama nan berkualitas.

Sejumlah arsip media cetak pun tertata rapi di sini. Sobat traveler bisa dengan runtut membaca semua pemberitaan media selama tahun 1971 misalnya. Semua dirangkum dengan begitu rapi, jelas, dan enak diikuti.

Wisata Murah Penuh Makna
Ratusan koleksi di Museum Perjuangan TNI tak hanya sekedar memanjakan mata, namun juga menggugah rasa ingin tahu dan menambah pengetahuan. Informasi dan bukti mengenai perkasanya militer Indonesia menghadapi penjajah sungguh tak bisa dinilai dengan uang. Namun hebatnya, pengunjung yang masuk ke area museum tak harus mengeluarkan uang sedikit pun.

Bagi sobat traveler yang tertarik untuk berkunjung, museum ini buka antara Senin sampai Jumat mulai pukul delapan pagi hingga setengah tiga sore. Rombongan yang ingin datang di akhir pekan juga diperbolehkan, namun harus terlebih dulu menghubungi pihak pengelola. Jika ingin memberi donasi secukupnya usai mengisi buku tamu juga diperbolehkan.

Well, itulah sedikit gambaran mengenai pesona dan daya tarik Museum Perjuangan TNI. Bagi sobat traveler yang tertarik dengan wisata sejarah dan ingin melihat bukti keperkasaan militer Indonesia, sangat direkomendasikan berkunjung ke sini

Kebun Binatang Kota Medan

Kebun Binatang Kota Medan

Tempatwisatadisumatera.web.id – Wisata di Medan: melihat kehidupan dan penampakan berbagai jenis hewan sangat menyenangkan. Mulai dari hewan yang berbahaya, jinak, unik, asyik dan sebagainya. Tentu saja, sejak kecil kami telah diajari untuk berteman dengan makhluk hidup lainnya. Kita juga harus mengajari kita untuk memelihara dan melestarikan keberadaan mereka agar tidak punah, sehingga anak-anak dan cucu-cucu kita dapat melihatnya nanti.

Kita dapat melihat secara langsung dari wujud satwa satwa ini dapat mengunjungi taman hewan yang berada di kota kota kita. Terutama bagi pecinta hewan, akan sangat menyenangkan bisa bercengkrama dengan satwa satwa yang dipelihara disana. Di Medan sendiri, terdapat kebun binatang yang cukup bagus. Nama dari Kebun binatang ini adalah Kebun Binatang Simalingkar. Pasalnya, kebun binatang ini tak hanya rumah bagi berbagai macam satwa, tapi bisa juga menjadi tempat wisata keluarga yang ingin mengajak anak anak mereka mengenal lebih dekat soal satwa satwa yang ada di dunia ini.

Kebun Binatang Simalingkar berada di Jalan Bunga Rampe IV, Kelurahan SImalingkar B, Medan Tuntungan, sekitar 10 kilo meter dari pusat kota ke arah Berastagi. Kebun Binatang Simalingkar ini diresmikan pada 14 April 2005 oleh wali kota Medan saat itu yaitu Abdillah. Sebelumnya Kebun Binatang Medan berada di Jalan Brigjen Katamso, Kelurahan Kampung Baru, Medan Maimun. Kandang dan pernak perniknya juga masih memakai dari kebun binatang yang lama. Pihak pengelola dari Kebun Binatang Simalingkar ini sepenuhnya dipegang oleh Pemerintah Kota Medan karena pihak pemkolah yang membangun Kebun Binatang Siamlingkar ini. Alasan pemindahan kebun binatang ini sendiri karena memerlukan area yang lebih luas. Area yang luas di perlukan karena bertambahnya koleksi satwa yang ada di kebun binatang ini. Selain itu, pemko juga ingin membangun wahana wisata lainnya, seperti taman bermain anak, outbound, flying fox serta wisata alam lainnya.

Untuk tempat wisata sejenis kebun binatang, pengunjung kebun binatang Simalingkar terbilang cukup ramai. Pada hari biasa, sekitar 150 pengunjung mendatangi tempat ini. Namun saat akhir pekan atau hari libur, jumlah pengujung dapat membludak sehingga setiap minggunya pengunjung mencapai 1000 orang. Mengunjungin tempat ini tak perlu takut bikin kantong kering, karena tiket dan parkirnya cukup murah. Untuk parkir kendaraan roda 4 atau lebih, pengunjung dikenakan biaya 4000 rupiah saja. Letak parkir kendaraan roda 4 berada di selatan. Untuk kendaraan roda 2, pengujung dikenakan biaya 2000 rupiah saja. Letak parkir kendaraan roda 2 berada di sebelah utara. Kedua lokasi ini letaknya persis di depan pintu masuk kebun binatang sehingga mudah untuk dijangkau pengunjung.

Baca juga : Taman Buaya Kota Medan

Untuk harga tiket sendiri terbagi menjadi dua bagian. Pada hari biasa harga tiketnya 12 ribu rupiah saja perorang, sedangkan pada hari libur harga tiketnya 15 ribu rupiah saja perorang. Harga tersebut sudah termasuk asuransi dari pihak pengelola kebun binatang Simalingkar. Bagi anak anak berusia 1 hingga 3 tahun, biaya tiket gratis.

Kebun binatang ini beroperasi setiap hari mulai pukul 08.00 sampai 17.00. Namun, pada saat weekend atau hari libur tutup pukul 17.30.

Untuk koleksi satwa yang ada di Kebun Binatang Simalingkar sendiri terdiri dari 26 jenis burung sebanyak 167 ekor, 6 jenis reptile sebanyak 37 ekor, 16 jenis mamalia sebanyak 70 ekor. Total dari satwa yang menempati tempat ini adalah 274 ekor hewan dan akan terus bertambah karena pengelolaannya yang semakin banyak. Kebun binatang ini juga berpotensi menjadi museum hewan. Selain itu, pihak pengelola bekerja sama dengan kebun binatang Siantar dan lainnya untuk saling bertukar hewan untuk menghindari perkawinan sedarah.

Saat pertama kali memasukin Kebun Binatang Simalingkar, kita akan menemukan denah atau peta dari Kebun binatang ini, sehingga pengujung bisa memilih objek objek mana saja yang ingin dikunjungin. Pengunjung dapat berkeliling ke seluruh bagian taman dengan menaikin mobil terbuka yang disediakan oleh pengelola. Selain dengan mobil terbuka, pengunjung dapat menaikin delman untuk mendapatkan sensasi berbeda dan pemandangan yang lebih jelas lagi.

Pada bagian utara taman, didominasi oleh wisata taman bermain anak dengan fasilitas yang lengkap, seperti perosotan, jungkat jungkit, ayunan, wahana mandi bola dan komidi putar seperti kuda terbang, kapal terbang, sampan pusing, dan sebagainya.

Disebelah barat dan selatan, di dominasi oleh banyak satwa, namun yang paling dekat adalah wilayah barat. Selain itu, di wilayah barat ini pengunjung dapat mencoba sensasi naik kuda yang dibimbing oleh seorang pawang untuk berkeliling taman. Biasanya kuda yang disewatak berada di pinggir jalan dan menunggu pengunjung lewat.

Di Taman hewan Simalingkar juga terdapat sebuah klinik untuk merawat hewan hewan yang sedang sakit maupun yang sedang stress. Menurut Dokter Sucitrawan dalam menangani hewan jinak lebih mudah kerena biasanya hanya sakit biasa dan hanya stress. Namun, beda halnya jika hewan buas karena merawatnya lebih tenang dan harus di suntik bius terlebih dahulu. Semoga saja dengan adanya kebun binatang ini dapat membantu melestarikan dan merawat hewan hewan tersebut agar senantiasa bisa hidup untuk dilihat oleh anak cucu kita kelak.

Taman Buaya Kota Medan

Taman Buaya Kota Medan

Tempatwisatadisumatera.web.id – Kali ini saya akan menjelajahi dunia hewan, yaitu pembibitan buaya (Buaya Pertanian), yang dikenal sebagai Taman Buaya, Medan. Taman Buaya terletak di Jl Bunga Raya 2, No 54, Sunggal, Medan, Asam Kumbang, Medan, Sumatera Utara.

Akses ke Taman Buaya Asam Kumbang

Saya, dan dua teman (Rahma dan Thimo) berkunjung ke taman buaya yang terkenal dengan sebutan Taman Buaya Asam Kumbang. Kami pergi ke tempat ini siang dan naik angkot. Naik Angkot 64 turun di Kampung Lalang (pemberhentian terakhir Angkot sebelum masuk ke Terminal Pinang Baris). Lalu ganti Angkot ke arah Taman Buaya (dari perempatan Kampung Lalang belok kiri searah ke Terminal Pinang Baris). Pulang, gunakan Angkot dari arah berlawanan kembali ke Kampung Lalang, lalu ambil Angkot nomor 23 untuk menuju ke Medan Kota dari jalan utama di kawasan Asam Kumbang. Bisa juga naik angkot nomor 135 biru kalau mau ke USU.

Cukup mudah menemukan lokasi penangkaran buaya ini. Angkot akan menurunkan Anda di depan gapura yang bergambarkan buaya yang merupakan papan petunjuk menuju ke Taman Buaya. Dari gapura ini, cukup jalan kaki sekitar 100 meter dan sampailah ke lokasi Taman Buaya.

Taman Buaya Asam Kumbang adalah penangkaran yang dikelola keluarga penduduk local, Lo Tham Muk. Taman Buaya berdiri karena hobi dari sang empunya Lo Tham Muk akan hewan reptile pada tahun 1959. Total buaya di lokasi ini mencapai 2.500 ekor lebih, dengan kebutuhan pangan setiap harinya mencapai 1 ton dan berada di lokasi seluas 2 hektare. Koleksi buaya kebanyakan dari jenis buaya muara. Usianya beragam, mulai dari balita hingga diatas 50 tahun bahkan ada yang berumur 78 tahun, tua bukan? dan warna dari buayanya variatif ada yang berwarna putih dan ada juga berwarna hitam. Tiket masuk yang cukup murah seharga Rp5000,-. Taman Buaya Asam Kumbang buka dari jam 09.00 WIB – 17.00 WIB.

Baca juga : Mesjid Raya Kota Medan

Saya dan kedua teman awalnya bingung melihat warung yang merupakan tempat membeli tiket sekaligus bisa membeli minuman ataupun souvenir miniature buaya dari plastik. Warungnya cukup sederhana. Setelah membayar tiket, kami masuk ke bagian samping rumah, si tuan rumah yang memberitahu jalan masuknya yang kecil dan dimulailah petualanganku dengan temanku di dunia ‘Crocodile’. Setelah masuk kami melihat beberapa kolam kering. Kolam kering ini menampung beberapa buaya disesuaikan umurnya. Dan sebuah kolam besar yang berbentuk rawa yang di dalam rawa ini beribu ribu buaya,.,Ngeri!! Aku dan temanku sempat bercanda apa yang terjadi jika masuk ke dalam kolam rawa buatan itu. Warnanya hijau dan penuh lumut dan sangat senyap seakan-akan tidak ada makhluk hidup disana dan kolam besar itu hanya disekat dengan pagar besi yang tinggi tapi coba lemparkan l ekor bebek/ayam yang disediakan pengelola bisa dibeli di tempat ini, maka buaya-buaya itu akan langsung melahapnya tanpa ragu. Rp 20.000/ekor dan diserahkan langsung ke sang pawang. Hal yang unik dari tempat ini adalah ada antraksi “monyet berteman dengan buaya”. Buaya yang telah jinak, jadi jika anda ingin berfoto dengan buaya dan menaiki punggungnya cukup membayar Rp 20.000 yang langsung serahkan ke pawing buaya. Aku begitu takjub melihat money yang tidak takut dengan buaya dan uniknya justru si monyet itu membersihkan mulut si buaya. Tips saya jika ingin ke tempat ini, bawalah payung, kamera dan masker penutup hidung karena tempat ini cukup bau dan payung untuk menghindari sengatan matahari (Cuaca Medan yang cukup terik). Disekitar penangkaran buaya kami juga melihat beberapa jenis ular di dalam kandang dan kura-kura. Taman buaya ini memang lumayan kecil dan bisa di kelilingi dalam 1 jam.

Mesjid Raya Kota Medan

Mesjid Raya Kota Medan

Tempatwisatadisumatera.web.id – Masjid Agung Al-Mashun atau yang biasa dikenal dengan Masjid Agung Medan adalah salah satu peninggalan Sultan Deli di Sumatera Utara bernama Sultan Ma’moen Al Rasyid Perkasa Alam (1873-1924) yang sangat monumental dan memiliki nilai sangat tinggi sejarahnya Masjid Agung Al-Mashun terletak di Jalan Sisingamangaraja, Medan, Sumatera Utara.

Luas Bangunan Masjid sekitar 5000 m2 dan dibangun diatas lahan seluas 18.000 m2 . Pembangunan masjid ini memakan waktu selama 3 tahun yaitu dari tanggal 21 Agustus 1906 sampai 19 September 1909. Masjid Raya ini telah berumur lebih dari 1 abad dan termasuk salah satu bangunan tertua di Kota Medan. Masjid ini sampai sekarang masih digunakan oleh umat Muslim untuk beribadah dan berdoa setiap harinya.

Sebagian dari bahan bangunan untuk mendekorasi masjid ini dibuat di negara Italia. Masjid Agung ini adalah masjid yang paling indah dan Masjid terbesar di Sumatera Utara. Masjid ini begitu megah serta mengagumkan dan dikagumi orang lantaran memiliki bentuk tidak sama dengan masjid biasanya.

Masjid Raya Medan berupa persegi delapan dengan empat serambi paling utama dibagian depan, belakang serta samping kiri kanan. Ke empat serambi itu menjadi pintu masuk ke Masjid Raya Medan. Dibagian dalam, ada delapan pilar berdiameter 0, 60 m yang menyokong kubah paling utama di bagian tengah. Sedang empat kubah yang lain ada diatas ke empat serambi. Ada juga dua menara di samping kiri kanan sisi belakang Masjid al Mahsun.

Baca juga : Transportasi Dari Medan ke Kota Berastagi

Sejak dibangun sampai saat ini, Masjid Raya Medan belum pernah direnovasi. Menurut salah seorang pengelola masjid, pemerintah daerah Sumatera Utara pernah merencanakan renovasi bagian-bagian Masjid Raya Al-Mashun yang telah rusak dimakan usia dan perluasan agar dapat menampung Jama’ah lebih banyak.

Namun, karena ditentang dari berbagai pihak yang khawatir nilai-nilai seni dari gaya arsitektur asli bangunan ini hilang, akhirnya pemerintah daerah hanya menambah sarana penunjang masjid, seperti penambahan tempat wudhu wanita (1980) tanpa mengotak-atik bangunan utamanya. itulah sebabnya, bangunan masjid ini masih tetap utuh seperti bentuk aslinya ketika dibangun lebih dari seabad. Akses untuk menuju ke Masjid Raya Medan sangat mudah karena letaknya di tengah Kota Medan.